Tampilkan postingan dengan label MATERI SUNNAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI SUNNAH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

SKIZOFRENIA

“SKIZOFRENIA  SEBAGAI BENTUK GANGGUAN JIWA”

Skizofrenia merupakan bahasan yang menarik perhatian pada konferensi tahunan “The American Psychiatric Association/APA” di Miami, Florida, Amerika Serikat, Mei 1995 lalu. Sebab di AS angka pasien skizofrenia cukup tinggi (lifetime prevalance rates) mencapai 1/100 penduduk. Sebagai perbandingan, di Indonesia bila pada PJPT I angkanya adalah 1/1000 penduduk maka proyeksinya pada PJPT II, 3/1000 penduduk, bahkan bisa lebih besar lagi.
Berdasarkan data di AS :
·         Setiap tahun terdapat 300.000 pasien skizofrenia mengalami episode akut.
·         Prevalensi skizofrenia lebih tinggi dari penyakit Alzheimer, multipel skelosis, pasien diabtes yang memakai insulin, dan penyakit otot (muscular dystrophy).
·         20%-50% pasien skizofrenia melakukan percobaan bunuh diri, dan 10% di antaranya berhasil (mati bunuh diri);
·         angka kematian pasien skizofrenia 8 kali lebih tinggi dari angka kematian penduduk pada umumnya.

FAKTOR PENYEBAB SKIZOFRENIA
Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (etilogi) yang pasti mengapa seseorang menderita skizofrenia, padahal orang lain tidak. Ternyata dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal. Penyebab skizofrenia menurut penelitian mutakhir antara lain :
1. Faktor genetik;
2. Virus;
3. Auto antibody;
4. Malnutrisi.
Sejauh manakah peran genetik pada skizofrenia ? Dari penelitian diperoleh gambaran sebagai berikut :
*      Studi terhadap keluarga menyebutkan pada orang tua 5,6%, saudara kandung 10,1%; anak-anak 12,8%; dan penduduk secara keseluruhan 0,9%.
*      Studi terhadap orang kembar (twin) menyebutkan pada kembar identik 59,20%; sedangkan kembar fraternal 15,2%.
Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga mempunyai peran bagi timbulnya skizofrenia kelak dikemudian hari. Gangguan ini muncul, misalnya, karena kekurangan gizi, infeksi, trauma, toksin dan kelainan hormonal. Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa meskipuna ada gen yang abnormal, skizofrenia tidak akan muncul kecuali disertai faktor-faktor lainnya yang disebut epigenetik faktor.
Kesimpulannya adalah bahwa skizofrenia muncul bila terjadi interaksi antara abnormal gen dengan :
§  Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat menganggu perkembangan otak janin;
§  Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan infeksi selama kehamilan;
§  Komplikasi kandungan; dan
§  Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada trimester kehamilan.
Selanjutnya dikemukakan bahwa orang yang sudah mempunyai faktor epigenetik tersebut, bila mengalami stresor psikososial dalam kehidupannya, maka risikonya lebih besar untuk menderita skizofrenia dari pada orang yang tidak ada faktor epigenetik sebelumnya.

PENYEBAB UMUM GANGGUAN JIWA
Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga, secara somato-psiko-sosial. Dalam mencari penyebab gangguan jiwa, maka ketiga unsur ini harusdiperhatikan. Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala-gejala yang patologik dari unsur psike. Hal ini tidak berarti bahwa unsur yang lain tidak terganggu. Sekali lagi, yang sakit dan menderita ialah manusia seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya atau lingkungannya.
Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia ialah keturunan dan konstitusi, umur dan sex, keadaan badaniah, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan,pekerjaan, pernikahan dan kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa permusuhan, hubungan antar amanusia, dan sebagainya. Biarpun gejala umum atau gejala yang menonjol itu terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin di badan (somatogenik), dilingkungan sosial (sosiogenik) ataupun dipsike (psikogenik). Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu timbullah gangguan badan ataupun jiwa. Umpamanya seorang dengan depresi, karena kurang makan dan tidur daya tahan badaniah seorang berkurang sehingga mengalami keradangan tenggorokan atau seorang dengan mania mendapat kecelakaan. Sebaliknya seorang dengan penyakit badaniah umpamanya keradangan yang melemahkan, maka daya tahan psikologiknya pun menurun sehingga ia mungkin mengalami depresi. Sudah lama diketahui juga, bahwa penyakit pada otak sering mengakibatkan gangguan jiwa. Contoh lain ialah seorang anak yang mengalami gangguan otak (karena kelahiran, keradangan dan sebagainya) kemudian menadi hiperkinetik dan sukar diasuh. Ia mempengaruhi lingkungannya, terutama orang tua dan anggota lain serumah. Mereka ini bereaksi terhadapnya dan mereka saling mempengaruhi.
Sumber penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :
a)      Faktor-faktor somatik (somatogenik).
·         Neroanatomi
·         Nerofisiologi
·         Nerokimia
·         Tingkat kematangan dan perkembangan organik
·         Faktor-faktor pre dan peri – natal
b)      Faktor-faktor psikologik ( psikogenik)
·         Interaksi ibu –anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya dan kebimbangan)
·         Peranan ayah
·         Persaingan antara saudara kandung
·         Inteligensi
·         Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
·         Kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah
·         Konsep dini : pengertian identitas diri sendiri lawan peranan yang tidak menentu
·          Keterampilan, bakat dan kreativitas
·          Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
·          Tingkat perkembangan emosi
c)      Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
·           Kestabilan keluarga
·           Pola mengasuh anak
·           Tingkat ekonomi
·            Perumahan : perkotaan lawan pedesaan
·            Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai
·           Pengaruh rasial dan keagamaan
·            Nilai-nilai

1.      Faktor keturunan

Tabel Penelitian saudara kembar dan saudara kandung yang salah satunya menderita Skizofrenia :
Hubungan dengan pasien skizofrenia
% yang menderita skizofrenia

Kembar monozigot (satu telur)

86,2 %

Kembar heterozigot (dua telur)

14,5 %

Saudara kandung

14,2 %

Saudara tiri

7,1 %

Masyarakat umum

0,85%

(Coleman, J.C : Abnormal Psychology and Modern life. Taraporevala Sons & Co.Bomb Faktor Konstitusi.
2.      Faktor Konstitusi
Faktor konstitusi
Hubungan dengan perkembangan abnormal
Bentuk badan

Tidak jelas peranannyua, tetapi disproporsi badaniah, kelemahan
dan penampakan yang jelek umpamanya lebih sering berhubungan dengan gangguan jiwa daripada bentuk badan yang baik dan menarik
Energi dan kegiatan

Rupaya berhubungan dengan apakah individu mengembangkanreaksi yang agresif atau lebih menuju ke dalam terhadap stres, jadi lebih berhubungan dengan jenis gangguan jiwa yang timbul bila individu itu terganggu jiwanya
Reaktivitas susunan syaraf vegetatif

Reaktivitas emosional yang tinggi mungkin sekali berhubungan
dengan realisasi berlebihan terhadap stres ringan dan pembentukan
rasa takut yang tak perlu; reaktivitas emosional yang kurang, dapat
mengakibatkan sosialisasi yang tidak sesual karena reaksi yang terlalu sedikit
Daya tahan

badaniah Membantu menentukan toleransi stres biologik dan psikologik dan
sistem organ apakah yang paling mudah terganggu. Ada individu yang sangat mudah terganggu sistem badaniahnya karena fungsi otaknya
Sensitivitas (kepekaan)

Menentukan sebagian dari jenis stres yang terhadapnya anak itu paling peka dan menentukan besarnya stres yang dapat ditahan tanpa gangguan jiwa; mempengaruhi cara anak menanggapi dunia
Kecerdasan dan bakat lain

Mempengaruhi kesempatan anak untuk berhasil dalam pertandingan/ persaingan sehingga mempengaruhi juga kepercayaan pada diri sendiri berdasarkan keberhasilan
(Coleman, J.C : Abnormal Psychology and Modern life. Taraporevala Sons & Co., Bombay, 1970. hal. 126)






 (PA)
Sumber : 
Coleman, J.C : Abnormal Psychology and Modern life. Taraporevala Sons & Co., Bombay,            1970. hal. 126
esources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/Proses%20Terjadinya%20gg.%20jiwa.pdf

GANGGUAN BERBICARA

Kegiatan berbicara merupakan ungkapan dari konsep simbolisasi merupakan proses neuromuskuler yang mengkordinasikan pernapasan, penyesuaian laring dan pemakaian struktur faring, langit-langit, mulut dan wajah. Suara yang dihasilkan akan menimbulkan sensasi dengar yang mengaktifkan impuls saraf. Dengan kata lain komunikasi oral adalah rangkaian yang terdiri dari berpikir, simbolisasi, suara, transmisi suara, mendengarkan, memperhatikan, dan mengerti. Kelainan pada salah satu jalur misalnya sistem saraf, organ bicara, mekanisme pendengaran, dan atau kombinasi kelainan faktor-faktor pemahaman dapat menyebabkan kelainan komunikasi atau yang lebih dikenal dengan “keterlambatan bicara”.
Kelainan atau Gangguan Bicara Dan Berbahasa
  1. irama.
                Lebih sering sebagai akibat kelainan struktur atau organ bicara, kelainan gigi geligi, atau celah bibir dan langit-langit, juga dapat pula diakibatkan oleh kelainan motorik bicara seperti adanya kerusakan sistem saraf yang mengatur otot-otot bicara.
  1. Gangguan simbolisasi : afasia.
                Terdapat kerusakan di daerah pusat bicara akibat disfungsi minimal otak karena trauma kepala, tumor otak, atau kelainan genetik.
q  Terdapat 2 jenis afasia : afasia ekspresif ; mengerti namun tidak dapat mengutarakan, dan afasia reseptif ; tidak mengerti simbol bahasa.
3.       Gangguan suara : disfonia. Disebabkan oleh kelainan getaran pita suara akibat gangguan aliran dan tekanan udara.
  1. Tidak ada atau kurangnya kontak mata pada anak setelah usia 3 bulan.
  2. Tidak memalingkan kepala dan mata ketika mendengar suara pada usia 6 bulan.
  3. Tidak memberikan respon bila dipanggil namanya pada usia 10 bulan.
  4. Tidak mengerti atau memberikan reaksi terhadap kata “jangan” atau “da-dah” pada usia 15 bulan.
  5. Tidak dapat menyebutkan 10 kata tunggal pada usia 18 bulan.
  6. Tidak berespon terhadap perintah sederhana pada 21-24 bulan.
  7. Tidak mampu menyebutkan anggota badan dan tidak mampu menyebutkan kalimat 2 kata pada 24 bulan.
  8. Sering mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti (bahasa planet) pada 30 bulan.
  9. Tidak mampu menggunakan kalimat sederhana atau menggunakan kalimat tanya sederhana pada usia 36 bulan.
  10. Tidak mampu menyebut huruf konsonan diakhir kata.
  11. Kesalahan pengucapan kata setelah usia 7 tahun.

Yang Harus Dilakukan Bila Anak Mengalami Keterlambatan Berbicara
Evaluasi oleh Tim yang terdiri dari :
dokter anak, dokter syaraf, dokter THT, psikiater, psikolog, speech patologist, terapis pedagogi, dan terapis bicara.
Lakukan pemeriksaan :
    1. Tes Pendengaran : Free field test (menilai kemampuan anak dalam memberikan respon terhadap bunyi), Behavioral observation (0-6 bulan), Conditioned test (2-4 tahun), Audiometri nada murni (> 4 tahun), dan BERA.
    2. CT-scan kepala dan MRI : merupakan pemeriksaan lanjutan. Terutama bila terdapat gangguan dengar, gangguan tonus otot, mental retardasi, dan atau kelainan wajah.
    3. EEG : Pemeriksaan lanjutan bila terdapat kejang, atau adanya afasia reseptif.
    4. est evaluasi kromosom : fragile X-syndrome, Trisomi 21.
    5. Tes fungsi hati, “urine organic acid test”, dan “urine amino acid” : Gangguan perkembangan dan metabolik lain.

Tips bagi orang tua atau terapis bicara :
·         Tidak memaksakan anak untuk bicara.
·         Biasakan berbicara atau membacakan buku dengan kata atau kalimat yang jelas.
·         Tidak menggunakan Bahasa yang kompleks, terlalu panjang dan sulit dimengerti, serta kembangkan satu kata anak menjadi satu susunan kalimat pendek : misal anak menunjuk sambil mengatakan “mobil” kita kembangkan menjadi “Kamu mau naik mobil?”, atau bila anak mengatakan tulis, maka kita kembangkan menjadi “Kamu mau menulis?”
·         Lebih baik bila kita berbicara sambil melakukan gerakan tubuh sehingga anak menjadi mudah mengerti.
·         Tidak memarahi kesalahan tata bahasa yang diucapkan anak.
·         Sertakan anak anda dalam kelompok anak-anak yang memiliki kemampuan berbahasa lebih baik.
Tanda dan Gejala Psikiatri – Bicara
1.       Gangguan bicara
·         Pressure of speech
·         Volubilitas (logorrhea)
·         Kemiskinan bicara
·         Bicara tidak spontan
·          Kemiskinan isi pembicaraan
·         Disprosodi
·         Disartria
·         Bicara yang terlalu keras atau lembut
·         Stuttering (gagap)
·         Cluttering
·         Aculalia
·         Bradilalia
·         Disfonia
2.       Gangguan afasik:(gangguan pada output bahasa)
·      Afasia motorik
·       Afasia sensorik.
·      Afasia nominal
·      Afasia sintaksis
·       Afasia jargon
·      Afasia global
·       Alogia
·      Koprofasia



(PA)

Selasa, 07 Juni 2011

 KESEHATAN JIWA
·      Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) : kesehatan sebagai  “keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan”.  Jadi definisi ini menekankan kesehatan sebagai suatu keadaan sejahtera yang positif, bukan sekedar keadaan tanpa penyakit.
·      Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosional.

Kesehatan Jiwa memiliki banyak komponen dan dipengaruhi oleh berbagai faktor (Johnson,1997) :
เฐฅ       Otonomi dan kemandirian
เฐฅ       Memaksimalkan potensi diri
เฐฅ       Menoleransi ketidakpastian hisdup
เฐฅ       Harga diri
เฐฅ       Menguasai lingkungan
เฐฅ       Orientasi realitas
เฐฅ       Menejemen stress

Faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa seseorang dapat dikategorikan sebagai:
§  Faktor individual meliputi struktur biologis: memiliki keharmonisan hidup, vitalitas, kegembiraan atau daya tahan emosional, spiritualitas dan memiliki identitas yang positif(Seaward, 1997).
§  Faktor interpersonal meliputi komunikasi yang efektif, membantu orang lain, keintiman, dan mempertahankan keseimbangan antara perbedaan dan keasaaman.
§  Faktor Sosial/budaya meliputi keinginan: untuk bermasyarakat, memiliki penghasilan yang cukup, tidak menoleransi kekerasan, dan mendukung keragaman individu.

Gangguan Jiwa
                Di masa lalu gangguan jiwa dipandang sebagai kerasukan setan, hukuman karena pelanggaran sosial atau agama, kurang minat atau semangat, dan pelanggaran norma sosial. Penderita gangguan jiwa dianiaya, dihukum, dijauhi, diejek dan dikucilkan dari masyarakat “normal”. Sampai abad ke-19, penderita gangguan jiwa dinyatakan tidak dapat disembuhkan.
                Saat ini gangguan jiwa diidentifikasi dan ditangani sebagai masalah medis. American Psychiatric Association (1994) medefinisikan gangguan jiwa sebagai “suatu sindrom atau pola psikologis atau prilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitkan dengan adanya distres (mislnya gejala nyeri) atau disabilitas (yaitu kerusakan pada satu atau lebih area fungsi yang penting)  atau disertai peningkatan resiko kematian yang menyakitkan, nyeri, disbilitas atau sangat kehilangan kebebsan”.
Gangguan jiwa adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial


CIRI-CIRI
Masalah psikososial:
Masalah gangguan jiwa:
·         Cemas,khawatir berlebihan dan takut
·         Marah tanpa sebab
·         Mudah tersinggung
·         Mengurung diri
·    Sulit konsentrasi,dan kecewa
·     Tidak mengenali orang
·         Bersifat ragu-ragu/merasa rendah diri
·         Bicara kacau
·     Pemarah dan agresif
·         Bicara sendiri
·         Reaksi fisik: jantung berdebar, otot
·         Tidak mampu merawat diri


RENTANG SEHAT-SAKIT JIWA
                                                                                                                                                              
Respon adaptif                                                     Respon Maladaftif



Sehat  Jiwa
Masalah psikososial
Gangguan jiwa
Pikiran logis
Pikiran kadang menyimpang
Waham
Persepsi akurat
Ilusi
halusinasi
Emosi konsisten
Reaksi emosional
Ketidak mampuan mengendalikan emosi
Prilaku sesuai
Prilaku kadang tidak sesuai
Ketidak teraturan
Hubungan sosial memuaskan
Menarik diri
Isolasi sosial


Kriteria umum untuk mendiagnosa gangguan jiwa meliputi Ketidak puasan dengan karakteristik, Kemampuan dan prestasi diri hubungan yang tidak efektif atau tidak memuaskan, tidak puas hidup di dunia atau koping yang tidak efektif terhadap peristiwa kehidupan.

Faktor yang menyebabkan gangguan jiwa dapat dipandang  dalam tiga kategori :

  • Faktor Idividual : struktur biologis , ansietas , kekhawatiran dan ketakutan, ketidakharmonisan dalam hidup, kehilangan arti hidup.
  • Faktor Interpersonal : komunikasi yg efektif, ketergantungan yg berlebihan atau menarik diri dari hubungan, kehilangan kontrol emosional.
  • Faktor Budaya dan Sosial : tidak ada penghasilan, kekerasan, tidak memiliki tempat tinggal(tuna wisma), kemiskinan, deskriminasi seperti pembedaan ras, golongan, usia, dan jenis kelamin.

DIAGNOSTIC AND STATISTICAL MANUAL OR MENTAL DISORDER (DSM-IV-TR)

Diagnostik and Statisticsl Manual of Mental Disorders Text Revision (DSM-IV-TR) merupakan taksonomi yang diterbitkan  oleh American Psychiatric Association yang menjelaskan gangguan jiwa dengan kriteria diagnostik spesifik. DSM-IV-TR digunakan oleh semua disiplin kesehatan jiwa untuk diagnosis gangguan psikiatri dan memiliki tiga tujuan:
1.       Memberi tata nama bahasa standar untuk semua profesional kesehatan jiwa
2.       Menjelaskan batasan karakteristik atau gejala yang membedakan diagnostik spesifik
3.       Membantu mengindentifikasi penyebab dasar gangguan jiwa



KEPERAWATAN  KESEHATAN JIWA KOMUNITAS

                Pelayanan keperawatan yang komperhensif, holistik, dan paripurna berfokus pada masyarakat yang sehat jiwa rentan terhap stress dan dalam tahap pemulihan serta pencegahan kekambuhan.

PELAYANAN YANG KOMPERHENSIF
                Pelayana  yang difokus kan pada:
·         Pencegahan primer pada anggota masyarakat sehat jiwa
·         Pencegahan sekunder pada anggota masyarakat yang mengalami masalah psikososial dan gangguan jiwa
·         Pencegahan tersier pada pasien gangguan jiwadengan proses pemulihan

Aspek fisik :
Dikaitkan dan kehilangan organ tubuh yang dialami anggota masyarakat  akibat bencana yang memerlukan pelayanan dalam rangka adaptasi mereka terhadap kondisi fisiknya

Aspek psikologis:
Ketakutan, kecemasan  maupun kondisi yang lebih berat dimana memerlukan pelayanan agara mereka dapat beradapatasidengan situai tersebut.

Aspek Sosial:
Kehilangan suami /isteri/anak dan keluarga  dekat kehilangan kerja dll.

Aspek Budaya :
Budaya tolong-menolong dan kekeluargaan yang dapat digunakan sebagai sistem pendukung sosial dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ditemukan

Aspek spiritual:
Nialai-nilai agama yang kuat dimasayarakat yang dapat diperberdayakan sebagai potensi masyarakat dalam mengatasi berbagai konflik dan dan masalah kesehatan yang terjadi.
 
KONSEPTUAL MODEL DALAM PERAWATAN JIWA
·         Proses therapy
Psikoanalisisa menggunakan “ free association “ and analisa minimal Yang dianalisa adalah masalah penting yang dialami sekarang – Psychioanalycal Model Develop by signuand freud Central concept : id ego dan super ego Ego defence machanism: Unconscious level of mental fungtioning Symptont are symbols by the ariginal conflict
Contoh : obsessive compulsive – cuci tangan hubungannya dgn masa lalu. Kalau tdk ada hubungan tdk usah dikaji lebih lanjut Psikoanalisa teori kontemporer : Erikson, Anna Freud, Melania Klien, karen Horney
·         Interpersonal Model
Develop by Peplau, H,S. Sullivan ,penekanan pd hubungan interpersonal :
Pengalaman interpersonal : Good me, bad me not me (Jangan sering mengatakan pada anak, “kamu salah”). Kecemasan timbul jika rasa aman tdk terpenuhi dan merasa ditolak Sebab individu membutuhkan rasa aman dan kepuasan Proses therapy : mengoreksi pengalaman interpersonal dgn memberikan pengalaman hubungan interpersonal yg positif dgn therapy . Therapist moderen klien secara aktif untuk membangun trust Reedukasi : Identifikasi problem – encourage more succesful style dlm hubungan interpersonal
·         Social Model
Develop by Caplan
Asumsi : lingkungan sosial mempengaruhi individu dan pengalaman seseorang
Lingkungan sosial – penyebab stress – penyimpangan prilaku, orang yg punya limited social support – predisposisi untuk laladaptive coping respon Social therapy
Membantu klien menangani sos-sistem Krisis intervensi Manipulasi sistem pendukung social (social support)
·                 Existensial Model
Develop by Cart Regers
Existensi seseorang sebagai manusia Penyimpangan prilaku : self alienated ( terasing )  feel helpless, sad, lonely self criticise – hambatan dlm berhubungan dgn orang lain
Prose therapeutik : membantu klien mengeksploitasi diri dan menerimanya
·                Medical Model
Fokus : Diagnosa mental illness – treatment based on diagnosa
Somatic treatment : Pharmacotherapy dan Electrocanvulsive therapy Moderen psyhiatric  care are dominated by medical model Penyimpanan perilaku merupakan gejala dari gangguan pd susunan syaraf pusat
·                 Islamic Model ( disadur dari Horikoshi 80)
Polarisasi struktural – World – diri manusia – keadaan
Knowledge – Tuhan – Akal – Selamat and culture
Cool (dingin)
Nature (Hot) - Setan – Jasad – Celaka

Terapi bertujuan mengembalikan keseimbangan “ hot and cool substance “ dlm diri manusia



PROSES TERJADINYA GANGGUAN JIWA
1.       PENYEBAB :
Walaupun gejala utama terdapat pd unsur kejiwaan tapi penyebab utamanya mugkin di badan ( Somatogenik), di lingkungan sosial ( sosiogenik) atau psike ( psikogenik)
Penyebabnya tdk tunggal tapi beberapa penyebab yg terjadi bersamaan dan saling mempengaruhi. Secara umum diketahui bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh adanya gangguan pd otak tapi tdk diketahui secara pasti apa yg mencetuskannya. Stress diduga sebagai pencetus dari gangguan jiwa tapi stress dapat juga merupakan hasil dari bwerkembangnya mental illness pada diri seseorang. Hubungan antara stres dan mental iillness sangat komplek.Reaksi tiap orang terhadap stress berbeda-beda. Beberapa kemungkinan penyebab gangguan jiwa ( WF. MARA8MIS 1998 )
2.       SOMATOGENIK
- Neuroanatomi
- Neurofiologis
- Neurokimia
- Tingkat perkembangan organik
- Faktor pre and perinatal
- Excessive secretion of the neurotransmitter nor epineprine
Excessive secretion of the neurotransintter norepimephrine may be a factor in anxiety disorders – antai ototng 1995
PERAN PERAWAT DLM THERAPY DIBIDANG KESEHATAN  JIWA
Asuhan yg kompeten ( competent of caring )
1.       Pengkajian yg mempertimbangkan budaya
2.       Merancang dan mengimplementasikan rencana tindakan
3.       Berperan serta dlm pengelolaan kasus
4.       Meningkatkan dan memelihara kesehatan mental, mengatasi pengaruh penyakit mental – penyuluhan dan konseling
5.       Mengelola dan mengkoordinasikan sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan pasien, keluarga staf dan pembuat kebijakan
6.       Memberikan pedoman pelayana kesehatan
FAKTOR PENYEBAB
·      Genetika ( cloninger 1989 )
Ayah, ibu saudara anak, 10 % diturunkan keponakan,cucu 2-4 % Diturunkan kembar monozygote รจ46 – 48 % diturun
Kembar dizigot 14 – 17 %
·      Neurobiologikal
Terjadi pembesar ventrikel III pd posies sebelah kiri :
Lobus frontal klien skizofrenia ( dari orang normal, Andreasen, 1991)
Wernicle dan Brocas aphasia disorganisasi pd waktu bicara
Hiperaktifitas dopamine
·      Neurobehavioral
Kerusakan lobus Frontal – kesulitan dlm proses pemecahan masalah, berpikir abstrak, G. Psikomotorik
Kerusakan pada basal ganglia – distonia tremor
Gangguan pada lobus temporal limbic – meningkatnya kewaspadaan, distractbility, gangguan memory ( Short Term )
·      Stress
Stress psikososial dan perkembangan – gejala psikotik, kemiskinan, kebodohan, pengangguran, isolasi sosial, kehilangan
·      Penyalagunaan :
Coping yg maladaptif – obat- obatan
·      Psikodinamika
Freud : gangguan hubungan pd masa anak
Gangguan Jiwa dapat dibedakan :
  • Psikotik – Organik (misal Delirium, Dementia, dll.)
  • Psikotik – Non Organik (misal Skizofrenia, Gg. Waham, Gg. Mood, dll.)
  • Non Psikotik (misal Gg. Cemas, Gg. Somatoform, Gg. Psikoseksual, Gg. Kepribadian, dll.)
Gangguan Jiwa Psikotik : Semua kondisi yang memberi indikasi terdapatnya hendaya berat dalam kemampuan daya nilai realitas, sehingga terjadi salah menilai persepsi dan pikirannya, dan salah dalam menyimpulkan dunia luar, kemudian diikuti dengan adanya waham, halusinasi, atau perilaku yang kacau.
Gangguan Jiwa Neurotik : Gangguan jiwa non psikotik yang kronis dan rekuren, yang ditandai terutama oleh kecemasan, yang dialami atau dipersepsikan secara langsung, atau diubah melalui mekanisme pertahanan/pembelaan menjadi sebuah gejala, seperti : obsesi, kompulsi, fobia, disfungsi seksual, dll.

(PA)Sumber :

  •  Videbeck , Sheila L.2008."Keperawatan jiwa".Jakarta:EGC
  • http://abidinblog.blogspot.com/2008/11/kesehatan-dan-gangguan-jiwa.html